PILIHANRAKYATID, JAKARTA - Dalam rangka festival Sastra Internasional "Gunung Bintan" dan Jamuan Penutup HPI 2018 Kepri, Yayasan Jembia Emas dan Dewan Kesenian Kepri dengan dukungan Dinas Kebudayaan Kepri dan Pemkab Bintan akan menerbitkan antologi puisi bersama dengan tema: Jejak Hang Tuah dalam puisi. Bagi sastrawan yang hendak mengikutsertakan puisi-puisinya ke dalam antologi puisi PENGUMUMANHASIL KURASI FESTIVAL SASTRA INTERNASIONAL GUNUNG BINTAN 2022. Dear All, inilah Pengumuman keempat dari panitia pelaksana FSIGB 2022, tentang hasil Kurasi Puisi untuk Antologi JAZIRAH Sebelas. Dari 432 penyair yang mengirimkan puisinya, inilah 300 nama penyair yang puisinya terpilih untuk diterbitkam dalam antologi bersama , JAZIRAH FestivalSastra Internasional Gunung Bintan diselenggarakan untuk memperkuat posisi Kepri sebagai Bunda Tanah Melayu. (Foto: Instagram/rumahsunting) Festival yang digelar di Provinsi Kepulauan Riau ini diikuti tiga negara serumpun pada 2019 yakni Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Festival tersebut diselenggarakan untuk memperkuat posisi Kepri Kegiatanberskala lintas negara, Festival Sastra Internasional Gunung Bintan 2022, telah mengumumkan nama penyair dan karya sastranya yang lolos kurasi pada 15 Juni 2022.. Ada 6 Penyair Kalimantan Selatan (Kalsel) yang lolos kurasi, yaitu Ali Syamsudin Arsyi, Ariffin Noor Hasby, A. Rahman Al-Hakim, Buya Al Banjari, Fahmi Wahid, Hudan Nur dan Rezqie M.A. Atmanegara. Sepanjangpengetahuan saya, Festival Sastra Internasional Gunung Bintan (FSIGB) 2020 di Tanjung Pinang adalah sebuah festival sastra yang besar di Indonesia, yang juga memanfaatkan teknologi digital sebagai medium of delivery. Para pemirsa yang berada di berbagai wilayah di Indonesia dapat mengikuti acara festival ini melalui fasilitas SNhZ. Bintan ANTARA ANTARA - Festival Sastra Internasional Gunung Bintan tahun 2019 kembali digelar di Provinsi Kepulauan Riau, diikuti tiga negara serumpun yakni Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Plt Gubernur Kepri, Isdianto, Selasa menyatakan festival tersebut semakin memperkuat posisi Kepri sebagai Bunda Tanah Melayu. Kepri, kata dia, tidak hanya dikenal dengan budaya melayu dan sejarah kerajaannya saja. Tapi juga memiliki jejak warisan sejarah di bidang sastra yang telah mendunia, yakni Gurindam XII dua belas karya Raja Ali Haji. "Ini yang menjadi konsen kita agar Kepri semakin dikenal sebagai daerah dengan beragam sektor unggulan. Sastra dan pariwisata menjadi andalan bila dipadukan dengan baik," ucap Isdianto. Baca juga Kelas puisi Taufiq Ismail di Festival Sastra Islam Selain itu Isdianto pun berharap, festival ini dapat lebih memperluas wawasan serta mengasah kemampuan dalam menghasilkan karya sastra yang berkualitas, apalagi ratusan penyair hadir dengan karyanya, khususnya juga para penyair dari negeri serumpun Malaysia dan Singapura. Isdianto tak lupa berpesan kepada para peserta, tamu undangan yang berasal dari luar Kepri, untuk sekaligus menjelajah wisata yang ada di Kepri. Kepri, lanjutnya, punya wisata alam, religi, sejarah, budaya, serta kuliner yang bisa dikunjungi dan dinikmati. "Semoga ajang ini juga dapat mepererat tali silaturahmi antar negeri serumpun serta meninggalkan kesan dan pengalaman berharga," tuturnya. Baca juga Hilmar Farid nyatakan sastra bisa satukan Asia Tenggara Penggagas acara, Rida K Liamsi, mengatakan bahwa festival ini sudah kali kedua dilaksanakan dan untuk tahun 2019 ini mengusung tema "Segara Sakti Rantau Bertuah". "Tema yang di usung ini bukan tanpa alasan, ada makna yang tersirat yakni kawasan maritim yang terbentang luas di masa lalu saat kejayaan kerajaan melayu makna ini ingin kita hidupkan kembali," kata Rida. Rida melanjutkan bahwa Festival sendiri berlangsung selama 3 hari pada 28 sampai 30 Oktober, di ikuti sebanyak 266 orang peserta. "Kita juga akan menggelar parade puisi dan pantun, seminar sastra, serta menelusuri jejak Pahlawan Raja Ali Haji di Pulau Penyengat," katanya. Baca juga Pesta sastra di Jakarta International Literary Festival 2019 Baca juga ALF akan rayakan 50 tahun ASEAN lewat sastraPewarta OgenEditor Muhammad Yusuf COPYRIGHT © ANTARA 2019 TANJUNG Festival Sastra Internasional Gunung Bintan FSIGB kembali dihelat pada bulan September 2022 mendatang. Kegiatan berskala lintas negara ini ditaja oleh Yayasan Jembia Emas yang bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Provinsi Kepulauan Riau serta sejumlah instansi lainnya. Yayasan Jembia Emas ini di bawah binaan Dato’ Sri Lela Budaya, Rida K Liamsi telah menyelenggarakan FSIGB selama 5 tahun berturut-turut walaupun dua tahun terakhir dilaksanakan secara daring dan luring karena adanya pandemi Covid-19. Adapun peserta FSIGB ini selain diikuti oleh penyair dari berbagai wilayah di Indonesia, juga diikuti oleh penyair dari sejumlah negara lainnya disamping beberapa Komunitas Sastra Indonesia. Melalui siaran persnya Senin 20/6/2022 Dato’ Sri Lela Budaya, Rida K Liamsi menjelaskan dari penyaringan penulis dari ribuan karya terseleksi maka yang lolos kurasi tidak kurang dari 500 penyair/penulis. “Dari hasil penyaringan penulis dari ribuan karya terseleksi maka yang lolos kurasi tidak kurang dari 500 penyair/penulis, baik dari dalam maupun dari luar negeri,” katanya. Lebih lanjut dikatakan karya-karya tersebut akan diabadikan dalam dua buku, yaitu buku dengan tajuk Jazirah 11 dan buku Jazirah 12. Untuk tahun 2022 Festival Sastra Internasional Gunung Bintan FSIGB akan dipusatkan di Tanjung Pinang, Pulau Lingga serta sejumlah tempat lainnta. Materi acara selain seminar peluncuran buku juga pementasa baca puisi disejumlah panggung yang telah disiapkan, jelasnya. Penulis dan penyair dari Provinsi Aceh yang lolos kurasi dalam even bergengsi ini adalah Salman Yoga S Aceh Tengah-Takengon, Herman RN Banda Aceh dan Zuliana Ibrahim Aceh Tengah-Takengon. [AR] Comments comments

festival sastra internasional gunung bintan